Fakta ilmiah yang tertuang
dalam Al-Qur’an dalam beberapa abad terakhir telah terbukti
kebenarannya. Para ilmuan menemukan beberapa hasil penelitian yang
ternyata telah tertulis dalam kitab suci umat muslim ini.
Bagi umat muslim, al-Qur’an dianggap sebagai penyempurna bagi
kitab-kitab sebelumnya. Salah satu keajaiban al-Qur’an adalah
terpeliharanya keaslian isi. Al-Qur’an tidak berubah sedikitpun sejak
pertama kali diturunkan pada malam 17 Ramadan (14 abad yang lalu) hingga
saat ini, dan bahkan mungkin sampai hari kiamat nanti.
Beberapa ilmuan menemukan fakta mencengangkan yang ternyata telah
termaktub dalam al-Qur’an yang datang sebelum penelitian diadakan.
Berikut 10 ayat al-Qur’an yang terbukti secara ilmiah:
1. Sungai di bawah laut
Definisi sungai sendiri adalah aliran air yang besar, memanjang,
kemudian mengalir secara terus-menerus dari hulu (sumber) menuju hilir
(muara). Namun melihat penelitian yang baru saja dilakukan oleh ilmuan
Jacques-Yves Cousteau, pakar peneliti dunia bawah laut asal Mexico,
sepertinya sungai perlu didefinisikan ulang. Penelitian yang ia tekuni
menemukan bahwa terdapat sungai di dalam lautan. Jadi akan ada bagian
dari lautan yang mempertemukan antara air tawar dan asin. Sungai bawah
laut tersebut terjadi karena terdapat perbedaan tekanan lapisan air. Hal
inilah yang telah disampaikan al-Qur’an lewat surat Ar-Rahman ayat
19-20 dan surat Al-Furqan ayat 53 yang artinya: “Dia membiarkan dua
lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada
batas yang tidak dilampaui masing-masing.” “Dan Dialah yang membiarkan
dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang
lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas
yang menghalangi.”
2. Jasad Fir’aun yang masih utuh
Fir’aun merupakan gelar yang digunakan untuk para penguasa, pemimpin
keagamaan dan pemimpin politik pada Mesir kuno. Pada tahun 1975 presiden
Perancis menawarkan kepada kerajaan Mesir bantuan untuk meneliti,
mempelajari dan menganalisis mumi Firaun, Ramsess II, yang sangat
terkenal. Ramsess II diceritakan mati tenggelam dalam Laut Merah ketika
mengejar Nabi Musa dan pengikutnya. Dipimpin oleh dokter Prof. Dr.
Maurice Bucaille, penelitian ini berhasil menemukan fakta bahwa terdapat
sisa-sisa garam yang masih melekat pada jasad mumi tersebut sebagai
bukti besar bahwa Firaun mati akibat tenggelam di dalam laut. Selain itu
diketahui juga perihal jasad yang dikeluarkan dari laut, dirawat, dan
dijadikan mumi hingga dapat awet hingga sekarang. Al-Qur’an yang datang
beberapa dekade sebelum penelitian ini telah menjelaskan dalam surat
Yunus ayat 92 yang artinya “Maka hari ini, Kami biarkan engkau (hai
Firaun) terlepas dari badanmu (yang tidak bernyawa ditelan laut), untuk
menjadi tanda bagi orang-orang setelahmu (supaya mereka mengambil
pelajaran). Dan (ingatlah) sesungguhnya kebanyakan manusia lengah
terhadap tanda-tanda kekuasaan Kami!"
3. Sidik jari
Sidik jari adalah adalah hasil reproduksi tapak/bekas pada sesuatu yang
pernah tersentuh kulit telapak tangan atau kaki. Sidik jari manusia
digunakan untuk keperluan identifikasi karena di dunia ini tidak ada
manusia yang memiliki sidik jari yang persis sama. Seiring perkembangan
zaman, sidik jari sudah di kembangkan ke arah security system yang
berfungsi sebagai data keamanan. Pola sidik jari selalu ada dalam setiap
tangan dan bersifat permanen. Itu berarti dari bayi hingga dewasa pola
sidik jari tidak akan berubah sebagaimana garis tangan. Kekhasan sidik
jari ini telah disampaikan al-Qur’an surat Al Qiyamah ayat 3-4 yang
artinya “Apakah manusia mengira, bahwa kami tidak akan mengumpulkan
(kembali) tulang belulangnya?. Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa
menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna.”
4. Segala sesuatu diciptakan berpasangan
Orang muslim pasti pernah mendengar arti dari surat QS Adz-Zaariyat ayat
49: “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu
mengingat akan kebesaran Allah.” Menurut ayat ini, Allah telah
menciptakan segala sesuatunya secara berpasangan, termasuk berbagai
partikel yang ada di bumi. Seorang ilmuwan asal Inggris, Paul Dirac,
berhasil melakukan penelitian yang membuktikan bahwa materi diciptakan
secara berpasangan (terdapat proton dan neutron dalam elektron).
Penemuannya dinamakan ‘Parite. Dia memperoleh Nobel di bidang fisika
pada tahun 1933 karena penemuannya itu.
5. Tumbuhan yang bertasbih
Sebuah majalah sains terkenal, Journal of Plant Molecular Biologies,
mengungkapkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh tim ilmuwan
asal Amerika Serikat tentang suara ulstrasonik yang berasal dari
tumbuhan. Penelitian yang dipimpin oleh Prof. William Brown ini kemudian
merekam dan menyimpan suara ultrasonik dari tumbuhan dan mengubahnya
menjadi gelombang elektrik optik yang dapat ditampilkan ke layar monitor
dalam bentuk rangkaian garis. Yang mengejutkan adalah, garis-garis
tersebut membentuk lafadz Allah yang kemudian diketahui sebagai kalimat
tasbih. Al-Qur’an tentu saja telah menjelaskan fenomena ini dalam surat
Al-Israa’ ayat 44 yang artinya “Dan tak ada sesuatu pun melainkan
bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih
mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.”
6. Fenomena hujan darah
Pada tahun 2008, hujan berwarna merah yang dipastikan oleh bakteriolog
setempat sebagai darah jatuh pada sebuah komunitas kecil di La Sierra,
Choco, Kolombia. Sebagian sampel diambil dan analisis, dan hasilnya
menunjukkan bahwa air itu darah. Qur’an surat Al-A’raf ayat 133 telah
memperingatkan kejadian ini: “Maka Kami kirimkan kepada mereka angin
topan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi
mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.”
7. Ledakan big bang
Big bang merupakan sebuah peristiwa yang menyebabkan pembentukan alam
semesta yang didasarkan pada kajian kosmologi mengenai bentuk awal dan
perkembangan alam semesta. Berdasarkan permodelan ledakan ini, alam
semesta, awalnya dalam keadaan sangat panas dan padat, mengembang secara
terus menerus hingga hari ini. Diantara teori penciptaan alam semesta
yang lain, teori ini telah memberikan penjelasan paling komprehensif dan
akurat yang didukung oleh metode ilmiah beserta pengamatan. Begitulah
yang juga disampaikan al-Qur’an dalam surat Al-Anbiya' ayat 30: "Dan
apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan
bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan
antara keduanya.”
8. Bahtera kapal Nuh
Cerita tentang kehebatan kapal Nabi Nuh yang terdampat setelah banjir
bandang sudah diwariskan dalam al-Qur’an Hud ayat 44 yang artinya “Hai
bumi tahanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” dan airpun
disurutkan, perintah pun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di
atas bukit Judi (tempat yang tinggi), dan dikatakan: “Binasalah
orang-orang yang zalim”. Setelah selang dekade berlalu, sejumlah
peneliti menemukan bukti-bukti valid tentang keberadaan kapal Nuh
tersebut. Melalui penelitian selama beratus-ratus tahun dan mengamati
hasil foto satelit, salah satu situs yang dipercaya sebagai jejak
peninggalan kapal tersebut terletak di pegunungan Ararat, Turki, yang
berdekatan dengan perbatasan Iran. Pemerintah Turki mengklaim 3500 tahun
kemudian bangkai kapal tersebut ditemukan pada 11 Agustus 1979 di
wilayahnya.
9. Segala yang hidup berasal dari air
Air adalah salah satu komponen pembentuk kehidupan, apabila ada cadangan
air disuatu tempat, dipastikan ada kehidupan di dalamnya. Kemudian
ternyata benar bahwa segala yang bernyawa, termasuk tumbuhan bersel satu
pasti mengandung air dan juga membutuhkan air. Keberadaan air adalah
satu indikasi adanya kehidupan. Tanpa air, mustahil ada kehidupan. Surat
Al- Anbiya menjelaskannya di ayat 30: “…dan dari air Kami jadikan
segala sesuatu yang hidup… “
10. Fakta tentang jenis kelamin bayi
Hasil penemuan ilmu genetika abad 20 menjelaskan bahwa jenis kelamin
seorang bayi ditentukan oleh air mani dari pria. Dalam air mani pria
terdapat kromosom x yang berisi sifat-sifat kewanitaan dan kromosom y
berisi sifat kelaki-lakian. Sedangkan dalam sel telur wanita hanya
mengandung kromosom x yang mengandung sifat-sifat kewanitaan. Jenis
kelamin seorang bayi tergantung pada sperma yang membuahi, apakah
mengandung kromosom x atau y. Alquran telah menjelaskan fakta itu dalam
surat An Najm ayat 45-46, “Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan
pria dan wanita, dari air mani, apabila dipancarkan.” Sebelum penemuan
itu diperoleh, masyarakat menganggap bahwa penentu jenis kelamin berasal
dari wanita, bukan dari air mani si pria.
10 ayat Al-Qur’an yang terbukti secara ilmiah
Keajaiban matematika dalam Al Qur’an
Keajaiban Al Quran dilihat dari sisi kandungannya telah banyak ditulis dan diketahui, tetapi keajaiban dilihat dari bagaimana Al Quran ditulis/disusun mungkin belum banyak yang mengetahui. Orang-orang non-muslim khususnya kaum orientalis barat sering menuduh bahwa Al Qur’an adalah buatan Muhammad. Padahal kalau kita baca Al Qur’an ada ayat yang menyatakan tantangan kepada orang-orang kafir khususnya untuk membuat buku/kitab seperti Al Quran dimana hal ini tidak mungkin akan dapat dilakukannya meskipun jin dan manusia bersatu padu membuatnya.
Tulisan singkat ini bertujuan untuk menyajikan beberapa keajaiban Al Qur’an dilihat dari segi bagaimana Al Qur’an ditulis, dan sekaligus secara tidak langsung juga untuk menyangkal tuduhan tersebut, dimana Muhammad sebagai manusia biasa tidak mungkin dapat melakukan atau menciptakan sebuah Al Qur’an. Pandangan sains secara konvensional menempatkan matematika sebagai suatu yang prinsipil dari sebuah cabang pengetahuan dimana alasan dikedepankan, emosi tidak dilibatkan, kepastian menjadi hal yang ingin diketahui, dan kebenaran hari ini merupakan kebenaran untuk selamanya.
Dalam masalah agama, ilmuan memandang bahwa semua agama sama, karena semua agama sama-sama tidak mampu memverifikasi atau menjustifikasi kebenaran melalui pembuktian yang dapat diterima oleh logika. Jadi suatu hal dikatakan valid jika ada bukti nyata, dan pembuktian ini merupakan sebuah prosedur yang dibentuk untuk membuktikan suatu realitas yang tak terlihat melalui sebuah proses deduksi dan konklusi yang hasil akhirnya dapat diterima oleh semua pihak.
Dengan dasar tersebut, tulisan ini mencoba untuk membawa pembaca pada suatu kesimpulan bahwa Al Qur’an yang ditulis menurut aturan matematika, merupakan bukti nyata bahwa Al Qur’an adalah benar-benar firman Allah dan bukan buatan Nabi Muhammad. Kiranya patut juga direnungi apa yang dikatakan oleh Galileo (1564-1642 AD) bahwa . “Mathematics is the language in which God wrote the universe (Matematika adalah bahasa yang digunakan Tuhan dalam menuliskan alam semesta ini)” ada benarnya. Kebenaran bahasa matematika tersebut akan dibahas sekilas sebagai tambahan dari tema utama tulisan ini.
Angka-angka Menakjubkan dari Beberapa Kata dalam Al Qur’an
Kalau kita buka Al Quran dan kita perhatikan beberapa kata dalam Al Quran dan menghitung berapa kali kata tersebut disebutkan dalam Al Quran, kita akan peroleh suatu hal yang sangat menakjubkan. Mungkin kita betanya, berapa lama waktu yang diperlukan untuk mencari dan menghitungnya. Dengan kemajuan teknologi khususnya komputer, hal tersebut tidak menjadi masalah. Tabel 1 menyajikan frekuensi penyebutan beberapa kata penting dalam Al Qur’an yang kita kenal dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan tabel tersebut ada beberapa pelajaran yang dapat kita petik. Misalnya pada kata “dunya” dan “akhirat” yang disebutkan dalam Al Qur’an dengan frekuensi sama, kita dapat menafsirkan bahwa Allah menyuruh umat manusia untuk memperhatikan baik kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat secara seimbang. Artinya kehidupan dunia dan akhirat sama-sama penting bagi orang Islam. Selanjutnya pada penyebutan kata “malaaikat” dan “syayaathiin” juga disebutkan secara seimbang. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa kebaikan yang direfleksikan oleh kata “malaaikah” akan selalu diimbangi oleh adanya kejahatan yang direfleksikan oleh kata “syayaathiin”. Hal lain juga dapat kita kaji pada beberapa pasangan kata yang lain.
Tabel 1. Jumlah Penyebutan beberapa Kata Penting dalam Al Quran
Sumber: From the Numeric Miracles In the Holy Qur’an by Suwaidan, www.islamicity.org
Beberapa kata lain yang menarik dari tabel tersebut adalah kata “syahr (bulan)” yang disebutkan sebanyak 12 kali yang menunjukkan bahwa jumlah bulan dalam setahun adalah 12, dan kata “yaum (hari)” yang disebutkan sebanyak 365 kali yang menunjukkan jumlah hari dalam setahun adalah 365 hari. Selanjutnya Kata “lautan (perairan)” disebutkan sebanyak 32 kali, dan kata “daratan” disebut dalam Al Quran sebanyak 13 kali. Jika kedua bilangan tersebut kita tambahkan kita dapatkan angka 45.
Sekarang kita lakukan perhitungan berikut:
· Dengan mencari persentase jumlah kata “bahr (lautan)” terhadap total jumlah kata (bahr dan barr) kita dapatkan:
(32/45)x100% = 71.11111111111%
· Dengan mencari persentase jumlah kata “barr (daratan)” terhadap total jumlah kata (bahr dan barr) kita dapatkan:
(13/45)x100% = 28.88888888889%
Kita akan mendapatkan bahwa Allah SWT dalam Al Quran 14 abad yang lalu menyatakan bahwa persentase air di bumi adalah 71.11111111111%, dan persentase daratan adalah 28.88888888889%, dan ini adalah rasio yang riil dari air dan daratan di bumi ini.
Al Qur’an Didisain Berdasarkan Bilangan 19
Dalam kaitannya dengan pertanyaan yang bersifat matematis yang hanya memiliki satu jawaban pasti, maka jika ada beberapa ahli matematika, yang menjawab di waktu dan tempat yang berbeda dan dengan menggunakan metode yang berbeda, maka tentunya akan memperoleh jawaban yang sama.
Dengan kata lain, pembuktian secara matematis tidak dipengaruhi oleh ruang dan waktu. Perlu diketahui bahwa dari seluruh kitab suci yang ada di dunia ini, Al Qur’an merupakan satu-satunya kitab suci yang seluruhnya ditulis dalam bahasa aslinya. Berkaitan dengan pembuktian, kebenaran Al Qur’an sebagai wahyu Allah yang sering dikatakan oleh orang barat sebagai ciptaan Muhammad, dapat dibuktikan secara matematis bahwa Al Qur’an tidak mungkin diciptakan oleh Muhammad. Adalah seorang ahli biokimia berkebangsaan Amerika keturunan Mesir dan seorang ilmuan muslim, Dr. Rashad Khalifa yang pertama kali menemukan sistem matematika pada desain Al Qur’an.
Dia memulai meneliti komposisi matematik dari Al Quran pada 1968, dan memasukkan Al Qur’an ke dalam sistem komputer pada 1969 dan 1970, yang diteruskan dengan menerjemahkan Al Qur’an ke dalam bahasa Inggris pada awal 70-an. Dia tertantang untuk memperoleh jawaban untuk menjelaskan tentang inisial pada beberapa surat dalam Al Qur’an (seperti Alif Lam Mim) yang sering diberi penjelasan hanya dengan “hanya Allah yang mengetahui maknanya”.
Dengan tantangan ini, dia memulai riset secara mendalam pada inisial-inisial tersebut setelah memasukkan teks Al Qur’an ke dalam sistem komputer, dengan tujuan utama mencari pola matematis yang mungkin akan menjelaskan pentingnya inisial-inisial tersebut. Setelah beberapa tahun melakukan riset, Dr. Khalifa mempublikasikan temuan-temuan pertamanya dalam sebuah buku berjudul “MIRACLE OF THE QURAN: Significance of the Mysterious Aphabets” pada Oktober 1973 bertepatan dengan Ramadan 1393.
Pada buku tersebut hanya melaporkan bahwa inisial-inisial yang ada pada beberapa surat pada Al Qur’an memiliki jumlah huruf terbanyak (proporsi tertinggi) pada masing-masing suratnya, dibandingkan huruf-huruf lain. Misalnya, Surat “Qaaf” (S No. 50) yang dimulai dengan inisial “Qaaf” mengandung huruf “Qaaf” dengan jumlah terbanyak. Surat “Shaad” (QS No. 38) yang memiliki inisial “Shaad”, mengandung huruf “Shaad” dengan proporsi terbesar.
Fenomena ini benar untuk semua surat yang berinisial, kecuali Surat Yaa Siin (No. 36), yang menunjukkan kebalikannya yaitu huruf “Yaa” dan “Siin” memiliki proporsi terendah. Berdasarkan temuan tersebut, pada awalnya dia hanya berfikir sampai sebatas temuan tersebut mengenai inisial pada Al Qur’an, tanpa menghubungkan frekuensi munculnya huruf-huruf yang ada pada inisial surat dengan sebuah bilangan pembagi secara umum (common denominator).
Akhirnya, pada Januari 1974 (bertepatan dengan Zul-Hijjah 1393), dia menemukan bahwa bilangan 19 sebagai bilangan pembagi secara umum[1] dalam insial-inisial tersebut dan seluruh penulisan dalam Al Qur’an, sekaligus sebagai kode rahasia Al Qur’an. Temuan ini sungguh menakjubkan karena seluruh teks dalam Al Qur’an tersusun secara matematis dengan begitu canggihnya yang didasarkan pada bilangan 19 pada setiap elemen sebagai bilangan pembagi secara umum. Sistem matematis tersebut memiliki tingkat kompleksitas yang bervariasi dari yang sangat sederhana (bisa dihitung secara manual) sampai dengan yang sangat kompleks yang harus memerlukan bantuan program komputer untuk membuktikan apakah kelipatan 19. Jadi, sistem matematika yang didasarkan bilangan 19 yang melekat pada Al Quran dapat diapresiasi bukan hanya oleh orang yang memiliki kepandaian komputer dan matematika tingkat tinggi, tetapi juga oleh orang yang hanya dapat melakukan penghitungan secara sederhana.
Selain 19 sebagai kode rahasia Al Qur’an itu sendiri, peristiwa ditemukannya bilangan 19 sebagai “miracle” dari Al Qur’an juga dapat dihubungkan dengan bilangan 19 sebagai kehendak Allah. Disebutkan di atas bahwa kode rahasia tersebut ditemukan pada tahun 1393 Hijriah. Al Qur’an diturunkan pertama kali pada 13 tahun sebelum Hijriah (hijrah Nabi). Jadi keajaiban Al Qur’an ini ditemukan 1393+13=1406 tahun (dalam hitungan hijriah) setelah Al Qur’an diturunkan, yang bertepatan dengan tahun 1974 M.
Surah 74 adalah Surah Al Muddatsir yang berarti orang yang berkemul (Al Quran dan Terjemahnya, Depag) dan juga dapat berarti rahasia yang tesembunyi, yang memang mengandung rahasia Allah mengenai keajaiban Al Qur’an. Dalam Surah 74 ayat 30-36 dinyatakan:
(74:30) Di atasnya adalah 19.
(74:31) Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami jadikan bilangan mereka itu (19) melainkan untuk:
– cobaan/ujian/tes bagi orang-orang kafir,
– meyakinkan orang-orang yang diberi Al Kitab (Nasrani dan Yahudi),
– memperkuat (menambah)keyakinan orang yang beriman,
– menghilangkan keragu-raguan pada orang-orang yang diberi Al kitab dan juga orang-orang yang beriman, dan
– menunjukkan mereka yang ada dalam hatinya menyimpan keragu-raguan; dan orang-orang kafir mengatakan: “Apakah yang dikehendaki Allah dengan perumpamaan ini?” Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia. Dan ini tiada lain hanyalah sebuah peringatan bagi manusia.
(74:32) Sungguh, demi bulan.
(74:33) Dan malam ketika berlalu.
(74:34) Dan pagi (subuh) ketika mulai terang.
(74:35) Sesungguhnya ini (bilangan ini) adalah salah satu dari keajaiban yang besar.
(74:36) Sebagai peringatan bagi umat manusia.
Sebagian besar ahli tafsir menafsirkan 19 sebagai jumlah malaikat. Menurut Dr. Rashad Khalifa, menafsirkan bilangan 19 sebagai jumlah malaikat adalah tidak tepat karena bagaimana mungkin jumlah malaikat dapat dijadikan untuk ujian/tes bagi orang-orang kafir, untuk meyakinkan orang-orang nasrani dan yahudi, untuk meningkatkan keimanan orang yang telah beriman dan juga untuk menghilangkan keragu-raguan. Jadi, tepatnya bilangan 19 ini merupakan keajaiban yang besar dari Al Qur’an sesuai ayat 35 di atas, menurut terjemahan Dr. Rashad Khalifa (dan juga terjemahan beberapa penterjemah lain). Jadi pada ayat 35 kata “innahaa” merujuk pada kata “’iddatun” pada ayat 31.
Mengapa 19?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, perlu dijelaskan tentang sistem bilangan. Kita pasti mengenal betul sistem bilangan Romawi yang masih sangat dikenal pada saat ini, seperti I=1, V=5, X=10, L=50, C=100, D=500 dan M=1000. Seperti halnya pada sistem bilangan Romawi, sistem bilangan juga dikenal pada huruf-huruf arab. Bilangan yang ditandai pada setiap huruf dikenal sebagai “nilai numerik (numerical value atau gematrical value)”. Click link ini untuk mengetahui lebih jauh tentang nilai numerik.
Setelah mengetahui nilai dari setiap huruf arab tersebut, kita dapat menjawab mengapa 19 dipakai sebagai kode rahasia Allah dalam Al Qur’an, dan sekaligus dapat digunakan untuk mengungkap keajaiban Al Qur’an. Berikut beberapa hal yang dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa 19.
* 19 merupakan nilai numerik dari kata “Waahid” dalam bahasa arab yang artinya ‘esa/satu’ (lihat Tabel 2) Tabel 2. Nilai numerik dari kata “waahid”
* 19 merupakan bilangan positif pertama dan terakhir (1 dan 9), yang dapat diartikan sebagai Yang Pertama dan Yang Terakhir seperti yang dikatakan Allah, misalnya, pada QS 57 ayat 3 sebagai berikut: “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS 57:3). Kata “waahid” dalam Qur’an disebutkan sebanyak 25 kali, dimana 6 diantaranya tidak merujuk pada Allah (seperti salah satu jenis makanan, pintu, dsb). Sisanya 19 kali merujuk pada Allah. Total jumlah dari (nomor surat + jumlah ayat pada masing-masing surat) dimana 19 kata “waahid” yang merujuk pada Allah adalah 361 = 19 x 19. Jadi 19 melambangkan keesaan Allah (Tuhan Yang Esa).
* Pilar agama Islam yang pertama juga dikodekan dengan 19
“La – Ilaha – Illa – Allah”
Nilai-nilai numerik dari setiap huruf arab pada kalimah syahadat di atas adalah dapat ditulis sebagai berikut
“30 1 – 1 30 5 – 1 30 1 – 1 30 30 5”
Jika susunan angka tersebut ditulis menjadi sebuah bilangan, diperoleh = 30113051301130305 = 19 x … atau merupakan bilangan yang mempunyai kelipatan 19. Jadi jelaslah bahwa 19 merujuk kepada keesaan Allah sebagai satu-satunya dzat yang wajib disembah.
Beberapa Contoh Bukti-bukti yang Sangat Sederhana tentang Kode 19
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa desain Al Qur’an yang didasarkan bilangan 19 ini, dapat dibuktikan dari penghitungan yang sangat sederhana sampai dengan yang sangat komplek. Berikut ini hanya sebagian kecil dari keajaiban Al Quran (sistim 19) yang dapat ditulis dalam artikel singkat ini. Fakta-fakta yang sangat sederhana:
(1) Kalimat Basmalah pada (QS 1:1) terdiri dari 19 huruf arab.
(2) QS 1:1 tersebut diturunkan kepada Muhammad setelah Surat 74 ayat 30 yang artinya “Di atasnya adalah 19”.
(3) Al Qur’an terdiri dari 114 surah, 19×6.
(4) Ayat pertama turun (QS 96:1) terdiri dari 19 huruf.
(5) Surah 96 (Al Alaq) ditempatkan pada 19 terakhir dari 114 surah (dihitung mundur dari surah 114), dan terdiri dari 19 ayat
(6) Surat terakhir yang turun kepada Nabi Muhammad adalah Surah An-Nashr atau Surah 110 yang terdiri dari 3 ayat. Surah terakhir yang turun terdiri dari 19 kata dan ayat pertama terdiri dari 19 huruf.
(7) Kalimat Basmalah berjumlah 114 (19×6). Meskipun pada Surah 9 (At Taubah) tidak ada Basmalah pada permulaan surah sehingga jumlah Basmalah kalau dilihat pada awal surah kelihatan hanya 113, tetapi pada Surah 27 ayat 30 terdapat ekstra Basmalah (dan juga 27+30=57, atau 19 x 3). Dengan demikian jumlah Basmalah tetap 114.
(8) Jika dihitung jumlah surah dari surah At Taubah (QS 9) yang tidak memiliki Basmalah sampai dengan Surah yang memuat 2 Basmalah yaitu S 27, ditemukan 19 surah. Dan total jumlah nomor surah dari Surah 9 sampai Surah 27 diperoleh (9+10+11+…+26+27=342) atau 19×18. Total jumlah ini (342) sama dengan jumlah kata antara dua kalimat basmalah dalam Surat 27.
(9) Berkaitan dengan inisial surah, misalnya ada dua Surah yang diawali dengan inisial “Qaaf” yaitu Surah 42 yang memiliki 53 ayat dan Surah 50 yang terdiri dari 45 ayat. Jumlah huruf “Qaaf” pada masing-masing dua surat tersebut adalah 57 atau 19 x 3. Jika kita tambahkan nomor surah dan jumlah ayatnya diperoleh masing-masing adalah (42+53=95, atau 19 x 5) dan (50+45=95, atau 19 x 5). Selanjutnya initial “Shaad” mengawali tiga surah yang berbeda yaitu Surah 7, 19, dan 38. Total jumlah huruf “Shaad” di ketiga surah tersebut adalah 152, atau 19 x 8. Hal yang sama berlaku untuk inisial yang lain.
(10) Frekuensi munculnya empat kata pada kalimat Basmalah dalam Al Qur’an pada ayat-ayat yang bernomor merupakan kelipatan 19 (lihat Tabel 3)
Tabel 3: Empat kata dalam Basmalah dan frekuensi penyebutan dalam ayat-ayat yang bernomor dalam Al Quran
No. Kata Frekuensi muncul
1 Ism 19
2 Allah 2698 (19×142)
3 Al-Rahman 57 (19×3)
4 Al-Rahiim 114 (19×6)
(11) Ada 14 huruf arab yang berbeda yang membentuk 14 set inisial pada beberapa surah dalam Al Qur’an, dan ada 29 surah yang diawali dengan inisial (seperti Alif-Lam-Mim). Jumlah dari angka-angka tersebut diperoleh 14+14+29=57, atau 19×3.
(12) Antara surah pertama yang berinisial (Surah 2 atau Surah Al Baqarah) dan surah terakhir yang berinisial (Surah 68), terdapat 38 surah yang tidak diawali dengan inisial, 38=19×2.
(13) Al-Faatihah adalah surah pertama dalam Al-Quran, No.1, dan terdiri dri 7 ayat, sebagai surah pembuka (kunci) bagi kita dalam berhubungan dengan Allah dalam shalat. Jika kita tuliskan secara berurutan Nomor surah (No. 1) diikuti dengan nomor setiap ayat dalam surah tersebut, kita dapatkan bilangan: 11234567. Bilangan ini merupakan kelipatan 19. Hal ini menunjukkan bahwa kita membaca Al Faatihah adalah dalam rangka menyembah dan meng-Esakan Allah.
Selanjutnya, jika kita tuliskan sebuah bilangan yang dibentuk dari nomor surah (1) diikuti dengan bilangan-bilangan yang menunjukkan jumlah huruf pada setiap ayat (lihat Tabel 4), diperoleh bilangan : 119171211191843 yang juga merupakan kelipatan 19.
Tabel 4: Jumlah huruf pada setiap ayat dalam Surah Al Faatihah
(14) Ketika kita membaca Surah Al-Fatihah (dalam bahasa arab), maka bibir atas dan bawah akan saling bersentuhan tepat 19 kali. Kedua bibir kita akan bersentuhan ketika mengucapkan kata yang mengandung huruf “B atau Ba’” dan huruf “M atau Mim”. Ada 4 huruf Ba’ dan 15 huruf Mim. Nilai numerik dari 4 huruf Ba’ adalah 4×2=8, dan nilai numerik dari 15 huruf Mim adalah 15×40=600. Total nilai numerik dari 4 huruf Ba’ dan 15 huruf Mim adalah 608=19×32 (lihat Tabel 5).
Tabel 5. Kata-kata dalam Surah Al-Fatihah yang mengandunghuruf Ba’ dan Mim beserta nilai numeriknya
Kejadian Di Alam Semesta yang Terkait dengan Bilangan 19
Beberapa kejadian lain di alam ini dan juga dalam kehidupan kita sehari-hari yang mengacu pada bilangan 19 adalah:
· Telah dibuktikan bahwa bumi, matahari dan bulan berada pada posisi yang relatif sama setiap 19 tahun
· Komet Halley mengunjungi sistim tata surya kita sekali setiap 76 tahun (19×4).
· Fakta bahwa tubuh manusia memiliki 209 tulang atau 19×11.
· Langman’s medical embryology, oleh T. W. Sadler yang merupakan buku teks di sekolah kedokteran di Amerika Serikat diperoleh pernyataan “secara umum lamanya kehamilan penuh adalah 280 hari atau 40 minggu setelah haid terakhir, atau lebih tepatnya 266 hari atau 38 minggu setelah terjadinya pembuahan”. Angka 266 dan 38 kedua-duanya adalah kelipatan dari 19 atau 19×14 dan 19×2.
Lima Pilar Islam (Rukun Islam) dan Sistem 19
Islam adalah agama yang dibawa oleh seluruh nabi sejak Nabi Ibrahim sebagai the founding father of Islam (misalnya lihat QS 2:67, 130-136; QS 5:44, 111; QS 3:52).Pesan utama yang disampaikan oleh seluruh Nabi sejak Nabi Ibrahim sampai Nabi Muhammad adalah sama yaitu menyembah Allah yang Esa, Shalat, Puasa, Zakat dan Haji. Allah menyempurnakan Islam melalui Nabi Muhammad. Jadi praktek shalat, zakat, puasa dan haji telah dilakukan dan diajarkan oleh Nabi-nabi sejak Nabi Ibrahim. Dari kelima pilar agama Islam, dapat ditunjukkan bahwa semua berkaitan dengan sistim bilangan 19 (kelipatan 19).
· Syahadat
Telah dibahas di atas bahwa pilar pertama agama Islam “Laa Ilaaha Illa Allah” didisain berdasarkan bilangan 19.
· Shalat
Kata “shalawat” yang merupakan bentuk jamak dari kata “shalat“ muncul di Al Qur’an sebanyak 5 kali. Ini menunjukkan bahwa perintah Allah untuk melaksanakan shalat 5 kali sehari dikodekan di Al Qur’an. Selanjutnya jumlah rakaat dalam shalat dikodekan dengan bilangan 19. Jumlah rakaat pada shalat subuh, zuhur, ashar, maghrib dan isya masing-masing adalah 2,4,4,3, dan 4 rakaat. Jika jumlah rakaat tersebut disusun menjadi sebuah angka 24434 merupakan bilangan kelipatan 19 atau (24434 = 19×1286). Digit 1286 kalau dijumlahkan akan didapat angka 17 (1+2+8+6) yang merupakan jumlah rakaat shalat dalam sehari. Untuk hari Jum’at jumlah rakaat Shalat adalah 15, karena Shalat Jum’at hanya 2 rakaat. Ini juga dapat dikaitkan dengan bilangan 19 (kelipatan 19). Jika kita buat hari Jum’at sebagai hari terakhir, maka jumlah rakaat shalat mulai hari Sabtu sampai Jum’at dapat ditulis secara berurutan sebagai berikut: 17 17 17 17 17 17 15. Jika urutan bilangan tersebut kita jadikan menjadi satu bilangan 17171717171715, maka bilangan tersebut merupakan bilangan dengan kelipatan 19 atau (19 x 903774587985). Jadi pada intinya shalat itu menyembah Tuhan yang Satu (ingat: 19 adalah total nilai numerik dari kata ‘waahid’). Surah Al-Fatihah yang dibaca dalam setiap rakaat dalam Shalat seperti dibahas sebelumnya juga mengacu pada bilangan 19. Selanjutnya, kata “Shalat’ dalam Al Qur’an disebutkan sebanyak 67 kali. Jika kita jumlahkan nomor surat-surat dan nomor ayat-ayat dimana ke 67 kata “Shalat” disebutkan, diperoleh total 4674 atau 19×246.
· Puasa
Perintah puasa dalam Al Qur’an disebutkan pada ayat-ayat berikut:
– 2:183, 184, 185, 187, 196;
– 4:92; 5:89, 95;
– 33:35, 35; dan
– 58:4.
Total jumlah bilangan tersebut adalah 1387, atau 19×73. Perlu diketahui bahwa QS 33:35 menyebutkan kata puasa dua kali, satu untuk orang laki-laki beriman dan satunya lagi untuk wanita beriman.
· Kewajiban Zakat dan Menunaikan Haji ke Mekkah
Sementara tiga pilar pertama diwajibkan kepada semua orang Islam laki-laki dan perempuan, Zakat dan Haji hanya diwajibkan kepada mereka yang mampu. Hal ini menjelaskan fenomena matematika yang menarik yang berkaitan dengan Zakat dan Haji.
Zakat disebutkan dalam Al Qur’an pada ayat-ayat berikut:
Penjumlahan angka-angka tersebut diperoleh 2395. Total jumlah ini jika dibagi dengan 19 diperoleh sisa 1 (bilangan tersebut tidak kelipatan 19).
Haji disebutkan dalam Al Qur’an pada ayat-ayat
– 2:189, 196, 197;
– 9:3; dan
– 22:27.
Total penjumlahan angka-angka tersebut diperoleh 645, dan angka ini tidak kelipatan 19 karena jika angka tersebut dibagi 19 kurang 1.
Kemudian jika dari kata Zakat dan Haji digabungkan diperoleh nilai total 2395+645 = 3040 = 19×160.
Penutup
Secara umum disimpulkan bahwa Al Qur’an didisain secara matematis. Apa yang dibahas di atas hanyalah sebagian kecil dari ribuan bukti tentang desain matematis dari Al Qur’an dan khususnya tentang bilangan dasar 19 sebagai desain Al Qur’an yang dapat disajikan pada tulisan ini. Selain itu, tulisan ini hanya memfokuskan pada contoh-contoh yang sangat sederhana, sementara untuk contoh-contoh yang sangat kompleks tidak disajikan di sini karena mungkin akan sulit dipahami oleh orang yang tidak memiliki latar belakang atau kurang memahami matematika. Bilangan 19 yang juga berarti Allah yang Esa, dan juga berarti tidak ada Tuhan melainkan Dia, dapat dikatakan sebagai “Tanda tangan Allah” di alam semesta ini.
Hal ini sesuai dengan salah satu firman Allah yang menyatakan bahwa seluruh alam ini tunduk dan sujud kepada Allah dan mengakui keesaan Allah. Hanya orang-orang kafir lah yang tidak mau sujud dan mengakui keesaan Allah. Allah dalam menciptakan Al Qur’an dan alam semesta ini telah melakukan perhirtungan secara detail, seperti firman Allah yang berbunyi: “dan Allah menghitung segala sesuatunya satu per satu (secara detail)” (QS 72:28). Jumlahkan angka-angka pada nomor surah dan ayat tersebut !!!!!! Anda memperoleh angka 19 (7+2+2+8=19).
Dari uraian di atas khususnya mengenai lima pilar Islam diperoleh kesimpulan yang sangat tegas bahwa pemeluk Islam adalah orang-orang yang pasrah dan tunduk menyembah dan mengakui keesaan Allah seperti yang ditunjukkan bahwa kelima pilar Islam tersebut berkaitan dengan sistim bilangan 19 (nilai numerik dari kata “waahid” atau Esa).
Hal ini juga sesuai dengan Islam sendiri yang yang secara harfiah dapat berarti pasrah/tunduk. Hal lain yang dapat diambil sebagai pelajaran dari sistim bilangan 19 sebagai disain Al Qur’an adalah terpecahkannya “unsolved problem” mengenai perdebatan di antara para ulama terhadap status “Basmalah” pada Surah Al-Faatihah apakah termasuk salah satu ayat dalam surah tersebut atau tidak. Dengan ditemukannya bilangan 19 sebagai disain Al Qur’an, bukti-bukti matematis pada tulisan ini telah membuktikan bahwa lafal “Basmalah” termasuk dalam salah satu ayat Surah Al-Fatihah. Sebagai penutup, semoga tulisan ini dapat menambah keimanan bagi orang-orang yang beriman, menjadi tes/ujian bagi mereka yang belum beriman, dan menghilangkan keragu-raguan bagi mereka yang hatinya dihinggapi keragu-raguan akan kebenaran Al Qur’an. Allah akan membiarkan sesat orang-orang yang dikehendakiNya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya (QS 74:31).
Catatan:
Untuk memverifikasi “keajaiban matematis” dari Al Qur’an anda perlu
menggunakan Al Qur’an yang dicetak menurut versi cetak Arab Saudi atau
Timur Tengah pada umumnya. Mengapa? Hasil penelitian yang saya lakukan,
terdapat banyak perbedaan antara Qur’an versi cetak Indonesia pada
umumnya dan Qur’an versi cetak Arab Saudi (kebetulan saya memegang
Qur’an versi cetak Arab Saudi), meskipun perbedaan tersebut tidak
berpengaruh pada makna/arti. Perbedaan tersebut hanya pada cara
menuliskan beberapa kata. Meskipun demikian, jika mengacu pada
“Keajaiban Matematis” dari Al Qur’an, Qur’an versi cetak Indonesia pada
umumnya (yang disusun oleh orang Indonesia) menyalahi aturan yang
aslinya sehingga keajaiban matematis tidak muncul. Saya hanya memberikan
2 contoh kata saja dari sekian kata yang berbeda penulisannya yaitu
kata “shirootho” dan “insaana”. Menurut versi cetak Arab Saudi, tidak
ada huruf “ALIF” antara huruf “RO’” dan “THO” pada kata “SHIROOTHO”
(lihat di Surat Al Fatihah) dan antara huruf “SIN” dan “NUN”pada kata
“INSAANA”, tetapi menurut versi cetak Indonesia pada umumnya terdapat
huruf ALIF pada kedua kata tersebut. Pada versi cetak Arab Saudi, untuk
menunjukkan bacaan panjang pada bunyi ROO dan SAA pada kata SHIROOTHO
dan INSAANA, digunakan tanda “fathah tegak”. Saya paham, maksud orang
menambahkan ALIF pada kedua kata tersebut agar lebih memudahkan bagi
pembacanya, tetapi ternyata menyimpang dari aslinya. Maka dari itu anda
menemukan jumlah huruf yang lebih banyak pada Surat Al Fatihah ayat 6
dan 7 dari yang saya tuliskan. Sebagai tambahan, salah satu ciri Qur’an
versi cetak Indonesia pada umumnya adalah Surat Al Fatihah terletak pada
HALAMAN 2, sementara versi cetak Arab Saudi, Fatihah berada pada
HALAMAN 1.
Mengenai jumlah kata, kata harus didefinisikan sebagai susunan dari
beberapa huruf (dua hrurf atau lebih), sehingga anda harus memperlakukan
“WA atau WAU” sebagai huruf meskipun bisa diartikan dengan kata “DAN”
dalam bahasa Indonesia. Perlakuan “WA” (misalnya pada kata “WATAWAA”)
sebenarnya bisa disamakan dengan “BI” (pada kata BISMI), karena
kebetulan BI bisa gandeng dengan kata berikutnya, sementara WA tidak
bisa ditulis gandeng dengan kata yang mengikutinya. Jadi jangan hitung
“WA” sebagai kata, tetapi sebagai huruf.
Oleh: Ali Said
Sumber : kabarislam.com
Mengenal Rashad Khalifa, Pelopor Teori Keajaiban Angka 19 dalam Al-Qur’an
Pada tahun 1980-an muncul sebuah “temuan” yang cukup menarik perhatian umat Islam, yaitu “kode 19”. Kode 19 atau lebih dikenal dengan kelipatan 19 dianggap sebagai partisi dalam hitung-hitungan jumlah huruf, kata, ataupun ayat tertentu di dalam Quran. Penemu kode 19 ini adalah Rashad Khalifa. Seorang doktor biokimia sekaligus imam masjid Tucson, Arizona, Amerika Serikat.
Biografi Singkat
Rashad Khalifa adalah seorang ahli kimia Muslim asal Mesir yang menetap di Amerika, dia lahir pada tanggal 19 November 1935. Khalifa menyelesaikan pendidikan sarjananya pada tahun 1957 pada jurusan pertanian di Universitas Ain Shams, Mesir, dua tahun kemudian ia berhasil meraih gelar masternya dalam bidang biokimia di Arizona State University dan gelar doktornya diraih di University of California pada tahun 1984. Ia menikah dengan seorang wanita Amerika yang beragama Islam.
Sebagai orang yang ahli dalam bidang kimia, Khalifa pernah menduduki jabatan-jabatan penting dalam bidang industri, antara lain: penasihat bidang science untuk pemerintah Libya, staff senior di Arizona State Office of Chemistry, dan dia juga ikut berkecimpung dalam Pembangunan dan Industri miliki PBB. Tidak hanya aktif dalam bidang industri, Khalifa juga ikut aktif dalam bidang agama, dia adalah seorang imam di Islamic Mosque of Tucson, Amerika Serikat, sekaligus pendiri organisasi keagamaan bernama United Submitters Internasional (USI). Mohammad Sondan Arfando, Misteri Angka di Balik Al-Qur’an, h. 9
Keajaiban Angka 19 dalam Al-Qur’an Menurut Rashad Khalifa
Keajaiban angka 19 dalam Al-Qur’an pertama kali diungkap oleh Rashad Khalifa, dia mulia meneliti komposisi matematika dari Al-Qur’an sejak tahun 1968, kemudian memasukkan Al-Qur’an ke dalam sistem komputer pada tahun 1969 . Dan tepat pada bulan Januari tahun 1974. Dia menemukan bahwa bilangan 19 adalah kode rahasia Al-Qur’an yang disebut dengan common denominator yang disandarkan pada surat al-Mudasir ayat 30:
عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَۗ – ٣٠
- Dan di atasnya ada sembilan belas
Para mufassir menafsirkan 19 sebagai jumlah malaikat penjaga neraka Saqar. Namun, menurut Khalifa penafsiran tersebut tidak tepat karena asbabu al-Nuzul ayat ini berkenaan tentang kaum Yahudi yang bertanya kepada nabi Muhammad tentang penjaga Neraka. Khalifa berasumsi bagaimana mungkin jumlah malaikat dapat dijadikan ujian bagi orang kafir, untuk meyakinkan Yahudi dan Nasrani, dan menghilangkan keragu-raguan. Jadi, tepatnya menurut Khalifa bilangan 19 merupakan keajaiban yang besar dalam Al-Qur’an. Rashad Khalifa, Quran: Visual Presentatoin of The Miracle, h. 7
Awalnya hasil penelitian Khalifa tidak banyak mendapatkan perhatian, bahkan saat pertama kali karyanya diterbitkan di harian Scientific America, Martin Gardner seorang ahli Matematika berpengahruh pada abad ke-20 mengatakan: “Itu merupakan studi yang tidak jenius terhadap Al-Qur’an, tetapi hal ini dapat lebih impresif jika Khalifa terlebih dahulu mengkonsultasikan penelitiannya kepadaku:” Mohammad Sondan Arfando, Misteri Angka di Balik Al-Qur’an, h. 10
Baca juga: Paradigma Tafsir Maudhu’i dalam Pandangan Musthafa Muslim
Namun tiga tahun kemudian Canadian Council bidang studi agama memeberitakan bahwa hasil penelitian Khalifa terbukti kebenarannya, sehingga mendapat apresiasi yang cukup besar dari publik. Sejak tahun 1983 banyak majalah dan koran populer dari berbagai negara mempublikasikan penemuannya. Mohammad Sondan Arfando, Misteri Angka di Balik Al-Qur’an, h. 10
Dalam menerapkan teori keajaiban angka 19 Khalifa membuktikannya den gan berbagai fakta dan perhitungan terhadap huruf-huruf hijayyah, kata-kata tertentu, ayat dan surat dalam Al-Qur’an. Dalam bukunya, Qur’an: Visual Presentation of Miracle secara garis besar perhitungan rumus-rumus angka 19 diklasikfikasikan ke dalam beberapa bentuk, antara lain:
- Kalimat Basmalah terdiri dari 19 huruf
- Al-Qur’an terdiri dari 114 surat, 6 × 19 = 114
- Wahyu pertama turun (al-‘alaq) terdiri dari 19 ayat
- Wahyu pertama turun (al-‘alaq) terdiri dari 340 huruf, 16 ×19 = 340
- Surat al-Baqarah diawali dengan الم, dan total kemunculan huruf-huruf tersebut dalam surat al-Baqarah adalah 9899, 521 × 19 = 9899
- Surat Yasin diawali dengan inisial يس, dan total kemunculan dari kedua huruf ini dalam surat tersebut adalah 285, 15 × 19 = 285
- Ayat pertama dari surat terakhir turun terdiri dari 19 huruf
- Wahyu ke dua (al-Qalam) terdiri dari 38 ayat, 2 × 19 = 38
- Wahyu ke tiga (al-Muzammil) terdiri dari 57 kata, 3 × 19 = 57
- Surat as-Syu’ara diawali dengan inisial عسق, dan total kemunculan huruf ini dalam suarat tersebut adalah 209, 11× 19 = 209
Paparan di atas hanya sebagian kecil dari keajaiban angka 19 dalam Al-Qur’an menurut Rashad Khalifa, seluruh teorinya secara lengkap dapat diakses di website resmi di sini.
Karya-Karya Rashad Khalifa dan Kritik terhadap Teorinya
Selama hidupnya Khalifa telah menulis beberapa buku, antara lain: Miracle of the Quran: Significance of the Mysterious Alphabets (1973), The Computer Speaks: God’s Message to the World (1981), Qur’an: Visual Presentation of the Miracle (1982), Qur’an, Hadith and Islam, Islamic (1982), Qur’an: The Final Testament (1989).
Menurut tulisan Muhammad Akrom Adabi, Al-Qur’an Dan Rahasia Angka: Kajian Kitab Tafsir Karya Abu Zahra Al-Najdi, bahwa Rashad Khalifa cukup konsisten dalam mengkaji rahasia angka-angka dalam Al-Qur’an dan untuk mendukung penemuannya ini ia mendirikan sekte dengan nama submission. Karena penemuannya ini Khalifa dianggap wali Allah oleh Syekh Ahmed Deebat dalam bukunya Al-Qur’an: The Ultimate Miracle. Bahkan para pengikutnya (submitters) menganggap Khalifa adalah seorang nabi, Mohammad Sondan Arfando, Misteri Angka di Balik Al-Qur’an, h. 17.
Namun, di sisi lain teorinya dikritik habis-habisan baik dari intelektual muslim maupun non-muslim seperti, Abduraahman Lomax, Edip Yuksei dan Abu Ameenah Bilal Philips. Abu Ameenah Bilal Philips adalah yang paling getol dalam mengkritik, dia menilai bahwa Khalifa telah banyak melakukan kesalahan perhitungan, kecurangan dan manipulasi terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, seluruh hasil kritikannya ditulis dalam buku The Qur’an Numerical Miaracle: Hoax and Heresy.
Kritikan terhadap dirinya terus bertambah tak kala Khalifa mengklaim bahwa surat al-Taubah ayat 128-129 bukan bagian dari Al-Qur’an dan juga secara terang-terangan menyatakan anti hadis, keyakinan ini dipegang teguh sampai akhir hayatnya, Abah Salam Alif Sampayya, Keseimbangan Matematika dalam Al-Qur’an, 59. Khalifa dibunuh pada tahun 1990 di masjid Tucson, Amerika. Dilaporkan bahwa pembunuhan ini terjadi karena ekstrimis muslim yang benci terhadap ajaran Khalifa.
Wallahu ‘Alam












